HIDUP TANPA AGAMA?


Apakah manusia mutlak butuh agama?

Apa manusia tidak bisa hidup tanpa agama?

Apakah  agama  masih relevan dengan kehidupan masa kini?

Dulu, ketika pengaruh gereja di Eropa  menindas  para  ilmuwan  karena penemuan  mereka  yang dianggap  bertentangan  dengan  kitab  suci, bagaimana Anda memandang Nicolaus Copernicus, Kepler, dan Galileo Galileiyang dihukum dan ditentang karena menemukan teori Heliosentris?. Bagaimana mereka memandang agama yang telah memiliki kitab suci bertentangan dengan fakta yang terjadi dan terbukti secara sains?.

Yang terjadi ternyata para ilmuan itu mencoba meninggalkan agama, padahal dari pembahasan sebelumnya dikemukakan bahwa agama merupakan fitrah, ia tetap ada dalam diri manusia. Tidak mungkin bisa ditinggalkan.

Dan benar. Ternyata kecenderungan meninggalkan agama itu tidak berlangsung lama. Mereka menyadari akan kebutuhan adanya pegangan sejati dalam hidup. Pegangan pasti yang sangat  stabil, yang tidak terbentuk   oleh   lingkungan  dan  latar  belakang pendidikan, budaya, serta kondisi sosial kemasyarakatan. William James menegaskan bahwa, “Selama manusia masih memiliki naluri cemas  dan  mengharap,  selama  itu  pula  ia  beragama (berhubungan  dengan Tuhan).”

Selama manusia tetap ingin menjadi manusia, dia harus tetap berpegang pada satu nilai yang tetap, nilai yang akan menemani jiwanya kapanpun, yang memberi tujuan, ajaran, jalan, serta pijakan untuk menempuh kehidupan yang terarah. Se-komunis apapun, seseorang pasti membutuhkan agama. Baik dia mengaku beragama maupun tidak.

Apalagi alam modern sebagai produk kemajuan sains dan teknologi telah melahirkan pola hidup yang materialis, konsumtif, hedonis, dan individualis. Pola hidup seperti ini akan berpotensi menghilangkan jati diri dan ketenangan batin bagi masyarakat.

Sehingga wajar jika John Neisbitt dalam Ten New Direction for The 1990 Megatrend 2000 meramalkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu memberitahu kepada manusia tentang arti kehidupan. Arti kehidupan itu bisa dipelajari melalui spiritualitas.

Jajak pendapat yang sempat diadakan oleh BBC dan dipublikasikan pada 20 April 1998 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Barat masih membutuhkan agama. Dihadapkan pada pertanyaan,”Apakah sekarang ini agama telah kehilangan maknanya?” responden yang menjawab ”Tidak” ternyata lebih besar daripada yang menjawab ”Ya”. Satu lagi, dalam bukuCalestine Prophecy diceritakan bahwa akan terjadi pembalikan budaya umat manusia di abad ke-20 secara besar-besaran, dari budaya materialistik menjadi budaya spiritualistik. Hal ini terjadi karena adanya rasa sepi di tengah keberlimpahan materi yang terdapat di masyarakat yang telah maju.

Ketika manusia dengan kemampuannya yang luar biasa telah mencapai kesuksesan, sering kali ia disergap dengan adanya perasaan kosong dan hampa dalam batinnya. Ia seringkali bingung saat telah meraih puncak kesuksesan dan kejayaan kariernya. Ia sering kehilangan pijakan, kemana dia harus melangkah, untuk apa semua prestasi yang telah diraihnya itu. Di sini agama berperan memberi bimbingan, jalan akan stabil dan menuju ke tujuan akhir dari hidup manusia, yaitu-dalam bahasa Williem James The Great Socius. Dialah Allah.

”Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 62:8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: